Makalah Ekspresi Gen Eukariotik
EKSPRESI GEN PADA ORGANISME EUKARIOTIK
Dosen Pengampu: Rizkia Suciati,M.Pd
Disusun Oleh:
Ermita (1601129001)
Faricha Hanafriansyah (1501125041)
Khotrun Nida (1501125059)
Kelas 4B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
atas Rahmat dan Taufik-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Semoga
Allah SWT senantiasa melimpahkan Hidayah dan Rahmat-Nya kepada kita secara
khusus dan masyarakat secara umum agar senantiasa mensyukuri akan ilmu, iman,
dan amal pada dirinya. Semoga dengan adanya makalah “ Ekspresi Gen Pada
Organisme Eukariotik” ini dapat menambah wawasan pembaca.
Makalah ini disusun dengan berbagai literatur
khususnya mata kuliah Biologi Sel dan Molekuler, buku-buku yang dianggap
relevan, serta pengetahuan dari penulis sehingga makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik sesuai yang diharapkan.
Akhir kata dengan segala kerendahan hati kami
mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan
bantuannya sehingga makalah ini dapat terselesaikan.kami menyadari bahwa
makalah ini masih perlu perbaikan, olehnya itu sumbang saran dari pembaca
sangat diharapkan.
Jakarta, Mei 2017
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR
.................................................................................... i
DAFTAR
ISI ................................................................................................... ii
ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Proses
metabolisme di dalam sel merupakan reaksi biokimia yang dikatalis oleh enzim
tertentu, sehingga keragaman proses dan hasil metabolism ditentukan oleh enzim
yangterlibat dalam reaksi tersebut. Keragaman enzim (baik struktur maupun
susunan asam aminonya) itu sendiri sangat ditentukan oleh susunan cetakannya
yaitu asam deoksiribonukleat (DNA) . Ruas DNA yang menjadi cetakan untuk
mensintesis enzim (protein) yang disebut dengan gen, sehingga gen merupakan
pengendali proses metabolisme atau pengendali kehidupan. Keragaman morfologi
suatu organisme merupakan penampakan gengennya.
Ekspresi gen
merupakan proses dimana informasi yang dikode di dalam gen diterjemahkan
menjadi urutan asam amino selama sintesis protein. Ekspresi Gen juga dapat
diartikan bagaimana sel mengatur untuk memperlihatkan ciri-ciri mahluk hidup
tersebut berdasarkan gen-gen yang di
miliki. Ekspresi gen ini berkaitan
dengan sintesis protein, yaitu proses transkripsi dan translasi. DNA akan
mengkode informasi genetik sesuai kebutuhannya
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan Ekspresi Gen ?
2. Bagaimana
proses ekspresi gen pada Eukariotik?
3. Bagaimana
proses regulasi gen pada Eukariotik?
C. Tujuan
1. Mengetahui
apa yang dimaksud dengan Ekspresi Gen
2. Mengetahui
bagaimana proses ekspresi gen pada Eukariotik
3. Mengetahui
bagaimana proses regulasi gen pada Eukariotik
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ekspresi Gen
Ekspresi gen
merupakan proses dimana informasi yang dikode di dalam gen diterjemahkan
menjadi urutan asam amino selama sintesis protein. Ekspresi Gen juga dapat
diartikan bagaimana sel mengatur untuk memperlihatkan ciri-ciri mahluk hidup
tersebut berdasarkan gen-gen yang di
miliki. Ekspresi gen ini berkaitan
dengan sintesis protein, yaitu proses transkripsi dan translasi. DNA akan
mengkode informasi genetik sesuai kebutuhannya.
Ekspresi gen
merupakan rangkaian proses penerjemahan informasi genetik (dalam bentuk urutan basa pada DNA atau RNA) menjadi protein, dan fenotipe. Informasi yang
dibawa oleh bahan genetik tidak bermakna apa pun
bagi suatu organisme jika tidak diekspresikan menjadi fenotipe. Ekspresi gen adalah
proses penentuan sifat suatu organisme oleh gen. Suatu sifat yang dimiliki oleh
organisme merupakan hasil metabolisme yang terjadi di dalam sel. Gen tersusun
dari molekul DNA, sehingga gen menentukan sifat suatu organism
B. Proses
Ekspresi Gen Pada Eukariotik
Mekanisme dasar
transkripsi dan translasi mirip pada bakteri dan eukariota, namun ada beberapa
perbedaan penting dalam aliran informasi genetic pada sel-sel. Dalam sel
eukariot, selaput nukleus memisahkan tempat dan waktu berlangsungnya
transkripsi dan translasi. Transkripsi terjaadi dalam nukleus, dan Mrna
ditranspor ke sitoplasma, tempat terjadinya translasi. Namun sebelum
meninggalkan nukleus, transkrip RNA eukariot dari gen pengode protein
dimodifikasidalam berbagai cara untuk menghasilkan mrna akhir yang fungsional.
Transkripsi gen eukariot pengode protein menghasilkan pre-mrna, dan pemrosesan
lebih lanjut menghasilkan mrna akhir.
1. Transkripsi
Mekanisme
transkripsi pada eukariot pada dasarnya menyerupai mekanisme pada prokariot.
Namun, begitu banyaknya polipeptida yang berkaitan dengan mesin transkripsi
pada eukariot menjadikan mekanisme tersebut jauh lebih kompleks daripada
mekanisme pada prokariot.
Pada transkripsi terjadi 3 langkah utama
yakni inisiasi, elongasi dan terminasi. Tetapi terdapat beberapa perbedaan
proses yang terjadi pada eukariot dan prokariot mulai dari proses inisiasi,
terminasi hingga transkrip RNA. Pada bakteri, transkip RNA segera berguna
sebagai mrna, namun pada eukatiota, transkrip RNA harus diproses terlebih
dahulu.
a. Pengikatan
RNA polimerase membentuk
kompleks dengan rantai ganda DNA, ikatan hidrogen dilelehkan, dan menciptakan
gelembung transkripsi. Daerah yang dibutuhkan oleh RNA polimerase membentuk
kompleks dengan rantai ganda DNA disebut promotor.
b.
Inisiasi pembentukan ikatan nukleotida pertama
dalam RNA. Enzim RNA polimerase tetap berada di daerah promotor sambil
mensintesis 9 nukleotida pertama. Namun demikian, pembentukan nukleotida pendek
ini terkadang mengalami keguguran (abortion),
yaitu: enzim mensintesis transkrip kurang dari 9 basa, melepaskannya kembali,
dan memulai kembali mensintesis RNA baru. Tahapan inisiasi berakhir apabila
enzim mampu mensintesis rantai RNA baru melewati batas panjang ini.
c.
Elongasi
selang selama enzim bergerak sepanjang DNA cetakan dan memperpanjang
rantai RNA. Sambil ia bergerak, ia membuka rantai ganda DNA dan menyingkapkan
sandi rantai tunggal DNA dengan nukleotida-nukleotida yang datang menyerang
ujung 3′ dari rantai RNA yang sedang
mengalami pemanjangan, membentuk molekul hibrida RNA-DNA di daerah yang dibuka
gulungannya. Persis dibelakang gulungan DNA yang terbuka ini, rantai tunggal
DNA berpasangan kembali membentuk rantai ganda dengan pasangan aslinya. RNA
kemudian muncul sebagai rantai tunggal yang bebas, yang ujung pemanjangannya
masih terkait dengan kompleks DNA-RNA-enzim.
d. Terminasi
titik dimana tidak ada lagi basa yang ditambahkan ke dalam rantai. Untuk
mengakhiri transkripsi, pembentukan ikatan fosfodiester harus dihentikan, dan
kompleks transkripsi harus dibubarkan. Sewaktu nukleotida terakhir ditambahkan
akan diikuti oleh runtuhnya gelembung transkripsi, dan dilepaskannya hibrida
RNA-DNA. DNA kembali ke keadaan rantai ganda, RNA dan enzim dibebaskan. Urutan
basa nukleotida dalam DNA yang digunakan agar terjadinya pengakhiran
transkripsi disebut terminator.
Ada tiga macam
kompleks RNA polimerase, yang masing-masing diperlukan untuk transkripsi
tipe-tipe gen eukariot yang berbeda. Perbedaan ketiga macam RNA polimerase
tersebut dapat diketahui melalui pemurnian menggunakan teknik kromatografi dan
elusi pada konsentrasi garam yang berbeda. Masing-masing RNA polimerase
mempunyai sensitivitas yang berbeda terhadap toksin jamur α-amanitin, dan hal
ini dapat digunakan untuk membedakan aktivitasnya satu sama lain.
a.
RNA polimerase I (RNA Pol I) mentranskripsi
sebagian besar gen rRNA. Enzim ini terdapat di dalam nukleoli dan tidak
sensitif terhadap α-amanitin.
b.
RNA polimerase II (RNA Pol II) mentranskripsi
semua gen penyandi protein dan beberapa gen RNA nuklear kecil (snRNA). Enzim
ini terdapat di dalam nukleoplasma dan sangat sensitif terhadap α-amanitin.
c.
RNA polimerase III (RNA Pol III) mentranskripsi
gen-gen tRNA, 5S rRNA, U6 snRNA dan beberapa RNA kecil lainnya. Enzim ini
terdapat di dalam nukleoplasma dan agak sensitif terhadap α-amanitin.
Di samping
enzim-enzim nuklear tersebut, sel eukariot juga mempunyai RNA polimerase lainnya di dalam
mitokondria dan kloroplas.
2. Translasi
Translasi adalah
proses penerjemahan kode genetik oleh tRNA ke dalam urutan asam amino.
Translasi menjadi tiga tahap yaitu inisiasi, elongasi, dan terminasi. Semua
tahapan ini memerlukan faktor-faktor protein yang membantu mRNA, tRNA, dan
ribosom selama proses translasi. Inisiasi dan elongasi rantai polipeptida juga
membutuhkan sejumlah energi. Energi ini disediakan oleh GTP (guanosin
triphosphat), suatu molekul yang mirip dengan ATP. Proses translasi dalam
sintesis protein ini sendiri mencakup serangkaian penerjemahan mRNA atau kondon
menjadi senyawa asam amino.
a. Inisiasi
Tahap inisiasi dari translasi
menyatukan mrna, trna yang membawa asam amino pertama dari polipeptida, dan
kedua subunit ribosom. Pertama, suatu subunit ribosom kecil berikatan dengan
mrna sekaligus trna inisiator spesifik, yang mengangkut asam amino metionin.
subunit kecil, yang telah berikatan
dengan trna inisiator, berikatan dengan tudung 5’ mrna dan kemudian
bergerak, atau memindai, kearah hilir disepanjang mrna hingga mencapai kodon
mulai, dan trna inisiator membentuk ikatan hydrogen dengan kodon tersebut.
Kodon mulai memberi sinyal-sinyal agar translasi dimulai. Ini penting karena
menetapkan bingkai pembacaan kodon untuk mrna. Penggabungan mrna, trna inisiator, dan subunit ribosom kecil diikuti oleh
pelekatan subunit ribosom besar, sehingga kompleks inisiasi translasi pun
lengkap. Saat proses inisiasi selesai, trna inisiator berada pada situs P
ribosom, dan situs A yang kosong siap untuk trna aminoasil berikutnya.
Perhatikan bahwa polipeptida selalu disintesis kesatu arah, dari metionin yang
terletak paling pertama diujung amino, disebut juga Nterminus, ke arah asam
amino terakhir di ujung karboksil, disebut juga C-terminus.
b. Elongasi
Dalam tahap pemanjangan dari
translasi, asam amino ditambahkan satu per satu ke asam amino sebelumnya.
Setiap penambahan melibatkan keikutsertaan beberapa protein yang disebut factor
pemanjangan (elongation factors) dan terjadi dalam siklus berlangkah tiga.
Pengenalan kodon membutuhkan hidrolisis satu molekul GTP, yang meningkatkan
akurasi dan efesiensi dari langkah ini. GTP hidrolisis untuk menyediakan energy
bagi langkah translokasi. Mrna digerakan melalui ribosom ke satu arah saja,
ujung 5’ terlebih dahulu. Ini sama dengan ribosom yang bergerak dengan arah
5’→3’ pada Mrna. Ribosom dan mrna saling bergerak satu sama lain, kesatu arah,
kodon demi kodon.
c. Terminasi
Tahap terakhir dari translasi adalah pengakhiran atau
terminasi. Pemanjangan berlanjut sampai kodon stop pada mrna mencapai situs A
dari ribosom. Triplet basa UAG, UAA, dan UGA tidak mengodekan asam amino,
melainkan bekerja sebagai sinyal untuk menghentikan translasi. Faktor pelepasan
(release factor) berikatan langsung dengan kodon stop di situs A. factor
pelepasan menyababkan penambahan molekul air, sebagai pengganti asam amino, ke
rantai polipeptida. reaksi ini memutus (menghidrolisis) ikatan antara
polipeptida yang sudah selesai dengan trna di situs P, sehingga melepaskan
polipeptida melalui terowongan keluar pada subunit besar ribosom. Sisa rakitan
translasi kemudian terlepas dalam proses multilangkah, dibantu oleh
factor-faktor protein lain. Penguraian rakitan translasi membutuhkan hidrolisis
dua molekul GTP lagi.
C. Proses
Regulasi Gen Pada Eukariotik
Tahap-tahap ekspresi gen yang dapat
diregulasi dalam sel-sel eukariotik.
Pada diagram ini, kotak-kotak
berwarna mengindikasi proses-proses yang paling alam sel-sel eukariotik sering
diregulasi. Setiap warna mengindikasi tipe molekul yang dipengaruhi Selubung
nucleus yang memisahkan transkripsi dan translasi dalam sel-sel eukariotik
menawarkan kesempatan untuk control pasca-transkripsi dalam bentuk
pemrosesan RNA yang tidak terdapat pada
prokariota.
1. Modifikasi
histon

Histon (protein -protein yang
dililit oleh DNA dalam nukleosom) memainkan peranan langsung dalam regulasi
transkripsi gen. N-terminus dari setiap molekul histon dalam nukleosom menonjol
keluar dari nukleosom. Dalam asetilasi histon, gugus asetil diletakkan ke lisin
pada ekor histon . deasetilasi merupakan pembuangan gugus asetil. Saat lisin
terasetilasi, muatan positifnya ternetralisasi dan ekor histon tidak lagi
berikatan dengan nukleosom disebelahnya. Hal ini membuat struktur kromatin
melonggar, akibatnya protein-protein transkripsi lebih mudah mengakses gen-gen
dalam wilayah yang terasetilasi.
2. Transkripsi
Setiap gen eukariotik memiliki sebuah promoter, yaitu
sekuens DNA tempat RNA polimease berikatan dan memulai transkripsi, berlanjut
kearah ’’hilir’’. Sejumlah unsur control (berwarna emas) terlibat dalam
meregulasi inisiasi transkripsi. Unsur ini merupakan sekuens DNA yang terletak
di dekat (proksimal terhadap) atau jauh dari (distal terhadap) promoter. Unsur
control distal bisa dikelompokkan ebagai enhasser, yang salah satunya
ditunjukan untuk gen ini. Sekuens sinyal poliadenilasi (poli-A) dalam ekson terakhir
gen ditranskripsikan menjadi sekuens RNA yang memberi sinyal di tempat

transkrip diptoong dan ekor poli-A ditambahkan. transkrip
mungkin berlanjut sbanyak ratusan nukleotida setelah sinyal poli-A sebelum
terminasi. Pemrosesan RNA terhadap transkrip primer menjadi Mrna FUNGSIONAL
MElibatkan tiga langkah : penambahan tudung 5’, penambahan ekor poli-A,
menggabungan ekson. Dalam sel, tudung 5’ ditambahnka segea setealh transkripsi
diulai. Penyuntingan ditambahkan poli-A juga mungkin terjadi saat transkripsi
masih berlangsung. Ekor poliA berfungsi mempermudah ekspor Mrna dari nucleus.

Gambar
Model kerja enhanser dan activator transkripsi
3. Regulasi
pasca transkripsi
Pada sel eukariotik, proses
translasi terjadi setelah transkripsi selesai. Sebelum proses translasi
terdapat fase pasca transkripsi. Terjadinya proses translasi ini berbeda dengan
transkripsi karena terjadi di sitoplasma. Ini dikarenakan terdapat membrane yang
membatasi antar nucleus dan sitoplasma. Mekanisme regulasi pasca transkripsi
memungkinkan sel menyelesaikan ekspresi gen secara cepat sebagai tanggapan
terhadap perubahan lingkungan tanpa mengubah pola transkripsinya.
4. Pemrosesan
RNA
Pemrosesan RNA dalam nucleus dan ekspor RNA matang ke
sitoplasma memberikan sejumlah kesmpatan untuk regulasi ekspresi gen yang tidak
tersedia pada prokariota. Salah satu contoh regulasi

pada tingkat pemrosesan RNA
adalah penyambungan RNA alternative, berupa pembuatan molekul-molekul mRNA yang
berbeda dari transkrip primer yang sama, bergantung pada segmen RNA mana yang
diperlakukan sebagai ekson dan mana yang menjadi intron. Proteinprotein
peregulasi yang spesifik untuk satu tipe sel mengontol pilihan intron-ekson dengan
cara berikatan ke sekuens regulasi dalam transkrip primer.
5. Degradasi
Mrna
MRNA da;am eukariota multiseluler umumnya bertahan beberapa
jam, hari atau bahkan minggu. Jalur penguraian Mrna yang umum dimiliki
organisme tampaknya diawali dengan pemendekan ekor poli-A secara enzimatik. Ini
memicu kerja enzim-enzim yang menyingkirkan tudung 5’. Penyingkiran
tudung,sebuah langkah yang sangat penting, juga diregulasioleh sekuens
nukleotida tertentu dalam Mrna. Sekuens nukleutida yang mempengaruhi seberapa lama mRNAtetap
utuh seringkali ditemukan dalam wilayah yang tak tertranslasi pada ujung
3’molekul tersebut.
6. Translasi
Sebelum menjadi protein aktif
atau fungsional, polipeptida hasil transkripsi akan mengalami suatu pemrosesan
agar dapat membentuk struktur fungsionalnya. Pemrosesan ini melibatkan
pemotongan rantai polipeptida atau penambahan asam amino baru atau senyawa lain
seperti karbohidrat pada rantai polipeptida. Sebagai contoh polipeptida yang
akan ditranspor melewati membran akan mengandung ruas signal transpor dibagian
hulu rantainya. Ruas signal transpor akan berperan membawa polipeptida melewati
pori-pori membran. Ruas signal ini akan dipotong setelah polipeptida melewati
membran. Insulin aktif mengandung dua rantai asam amino, namun kedua rantai
tersebut berasal dari satu polipeptida hasil transkripsi. Translasi menghasilkan
prapreinsulin yang mengandung ruas signal dan ruas preinsulin. Insulin akan
ditranspor melewati membran. Setelah melalui membran ruas signal dipotong
sehingga menyisakan ruas preinsulin. Selanjutnya preinsulin dipotong kembali
menghasilkan dua rantai insulin fungsional
7. Degradasi
Protein
UPS adalah proteolitic yang
memediasi degradasi dan modifikasi post translational dari protein dalam sel.
UPS system terdiri dari 2 proses penting, ubiquinasi dan degradasi
proteosome, yang berperan mempertahankan
fungsi protein. Ubiquinasi merupakan proses penambahan molekul ubiquitin pada
protein melalui reaksi enzimatik ATP-dependent yang melibatkan pengaktifan
enzym ubiquitin (E1), pengikatan enzym oleh ubiquitin (E2), ubiquitin ligase
(E3), dan pemanjangan rantai faktor ubiquitin. Ubiquinasi dari protein dapat
mengubah aktivitas atau mendegradasi protein tsb. Protein polyubiquinasi
biasanya terdegradasi oleh proteasome 26s. Proteasome dapat mengaktivasi jalur
pensinyalan protein dengan memotong protein menjadi bentuk aktif. Degradasi dan
pemotongan protein juga dapat dilakukan oleh proteasome oleh perilaku
ubiquitin.
D. Repair
DNA
DNA sebagai materi genetic yang
selalu mengalami berbagai reaksi kimia dan selalu melakukan kopi DNA. Perubahan
struktur DNA ini disebut mutasi DNA yang dapat terjadi pada saat proses
replikasi DNA. Untuk menstabilkan hal tersebut maka DNA memiliki kemampuan
untuk memperbaiki (repair) kesalahan yang terjadi pada dirinya sendiri. Jika
mutasi DNA yang terjadi cukup banyak dan DNA tidak sempat untuk memperbaiki
(repair) dirinya sendiri maka akan terjadi kelainan ekspresi genetic bahkan
menyebabkan terjadinya penyakit genetik. Konsumsi makanan yang bergizi serta
istirahat yang cukup memungkinkan tubuh untuk dapat melakukan repair DNA.
DNA repair merupakan suatu
mekanisme perbaikan DNA yang mengalami kerusakan / kesalahan yang diakibatkan
oleh proses metabolisme yang tidak normal, radiasi dengan sinar UV, radiasi
ion, radiasi dengan bahan kimia, atau karena adanya kesalahan dalam replikasi
DNA. Mekanisme perbaikan yang terdapat ditingkat selular secara garis besar
disesuaikan dengan jenis kerusakan yang tentu saja terkait erat dengan jenis
factor penyebabnya. Sel-sel menggunakan mekanismemekanisme perbaikan DNA untuk
memperbaiki kesalahan-kesalahan pada sekuens basa molekul DNA. Kesalahan dapat
terjadi saat aktivitas selular normal, ataupun dinduksi. DNA merupakan sasaran
untuk berbagai kerusakan: baik eksternal agent maupun secara spontan.
Apabila ada kesalahan / kerusakan DNA,
sel mempunyai dua pilihan :
a. Kesalahan
tersebut diperbaiki dengan cara mengaktifkan DNA repair. Namun apabila
kesalahan yang ada sudah tidak mampu lagi ditanggulangi, sel memutuskan untuk
beralih ke pilihan kedua.
b. Apabila
DNA tidak mampu diperbaiki lagi, akibat dari adanya kesalahan yang fatal maka
akan dimatikan daripada hidup membawa
pengaruh yang buruk bagi lingkungan sekelilingnya. Kemudian sel dengan DNA yang
normal akan meneruskan perjalanan untuk melengkapi siklus yang tersisa yaitu S
(sintesis) G2 (Gap 2) dan M (Mitosis).
Mekanisme DNA repair
Pada dasarnya perbaikan DNA dapat
dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
a)
Demage reversal : penggantian secara langsung,
photoreactivation merupakan cara perbaikan DNA dengan melibatkan pembuangan
atau pembalikan DNA yang rusak oleh sebuah enzim tunggal yang tergantung oleh
cahaya. Pada bakteri E. Coli enzim itu dikodekan oleh gen phr. Adanya kerusakan
pada suatu segmen pirimidin (timin dan sitosin) yang telah berpasangan (dimer)
pada suatu struktur DNA, akan mengaktifkan suatu proses perbaikan dimana suatu
kompleks protein enzim fotoreaktif akan memutuskan ikatan hydrogen tetapi tanpa
memutuskan ikatan fosfodiester antar nukleotida. Perubahan urutan akan
diperbaiki dengan pergantian sesame nukleotida dengan basa pirimidin, dan akan
diikuti proses penangkupan kembali celah yang semula tercipta.
b)
Demage removal : proses ini lebih kompleks
karena melibatkan replacing atau penggantian dengan dipotong-potong. Pada
excision repair diawali dengan proses pengidentifikasian ketidaksesuaian sekuen
/ urutan DNA dalam suatu proses pengawasan yang dilakukan oleh endonuklease
perbaikan DNA. Kompleks enzim tersebut akan menginisiasi proses pemisahan DNA
heliks utas ganda menjadi suatu segmen utas tunggal. Proses ini akan diakhiri
dengan pertautan kembali antara dua utas tunggal tersebut untuk kembali menjadi
bagian dari heliks utas ganda, dengan perantaraan enzim DNA ligase.
c)
Demage tolerance : Mentoleransi kesalahan.Hal
ini dilakukan bila kesalahan tidak dapat diperbaiki sehingga kesalahan terpaksa
ditoleransi dan yang terotong adalah kedua strand. Mekanisme ini adalah
sebentuk replikasi rawan kesalahan (error-phone) yang memprbaiki
kerusakan-kerusakan pada DNA tanpa mengembalikan sekuens basa awal. Tipe
perbaikan
ini bisa dipicu oleh kerusakan
DNA dalam tingkat tinggi. Pada bakteri E. Coli, system tersebut diatur oleh
gen-gen recA dan umu yang dihipotesiskan mengubah fidelitas (ketepatan)
polymerase DNA setempat. Dalam rose situ, polymerase melakukan replikasi
melewati kerusakan DNA, sehingga memungkinkan sel untuk bertahan hidup atau
sintas. Jika sel tersebut berhasil sintas melalui seluruh kerusakan DNA, besar
kemungkinan sel itu mengandung satu atau lebih mutasi.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Ekspresi gen adalah
proses penentuan sifat suatu organisme oleh gen. Suatu sifat yang dimiliki oleh
organisme merupakan hasil metabolisme yang terjadi di dalam sel. Proses
metaboisme dapat berlangsung karena adanya enzim yang berfungsi sebagai
katalisator proses-proses biokimia. Enzim dan protein lainnya diterjemahkan
dari urutan nukleotida yang ada pada molekul mRNA,dan molekul mRNA itu sendiri
disintesis berdasarkan untaian cetakan DNA. Gen tersusun dari molekul DNA,
sehingga gen menentukan sifat suatu organisme.
Ekspresi gen adalah
suatu rangkaian kompleks yang melibatkan banyak faktor. Salah satu ciri penting
pada sistem jasad hidup adalah keteraturan sistem. Oleh karena itu dalam
ekspresi gen proses pengendalian (regulasi) sistem menjadi bagian mendasar dan
penting. Secara umum dapat dikatakan bahwa proses ekspresi genetik dimulai dan
diatur sejak pra inisiasi transkripsi. Mekanisme pengaturan ekspresi gen ini
disebut dengan regulasi ekspresi gen.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Juwono. dan
Dr. Achmad Zulfa. 2002. Biologi Sel. Jakarta;
Kedokteran EGC
Yuwono.
Triwibowo. 2005. BIOLOGI MOLEKULER.
Jakarta; Erlangga
Comments
Post a Comment